RennyDiary

May 29, 2007

Rencana Lamaran

Filed under: Suka-Suka — by rennygraciani @ 9:34 am

Salah satu temen gw ada yang kayaknya udah ngebet pengen nikah. Selain karena udah ngga tahan tiap malem tidur sendirian, pagi-pagi juga keras-keras percuma, cewenya juga cakep banget. Putih, mungil dan alim. Pokoknya kalau gw nilai yah 9 dah. Sementara temen gw yang nama lengkapnya ngga mau di sebutkan Rudi Febrianto merupakan kebalikan dari cewenya. Udah ngga cakep, item gosong, ketimpringan. Pokoknya kalau liat dia bawaannya mau muntah. Cuma satu kelebihan yang di miliki oleh Rudi, bibir. Sangat fenomenal dan frontal.

Karena kekhawatiran bahwa sang cewe akan berpaling itulah yang mendorong Rudi untuk melamar cewe-nya. Setelah di timbang-timbang dengan seksama maka mulailah Rudi memberanikan diri untuk bilang ke cewenya. “Pet…Pety…abang mau ngomong nih” sang cewe yang emang dasarnya pemalu langsung menjawab “ngomong apa sih bang, bukannya abang dari tadi udah nyerocos mulu. Pety bosen dengernya bang. Pusing liat gerak bibir abang” 

“Gini pet, abang rasa, sudah saatnya kita melanjutkan hubungan kita ini ke jenjang yang lebih serius…abang…abang mau kita menikah” Rasanya bibir Rudi  bergetar hebat saat  mengucapkan kata pernikahan. Keringat pun mengucur di sekujur bibir. Dalam hati rudi terus berdoa, semoga diterima, semoga pety khilaf. Setelah terdiam beberapa saat akhirnya pety pun menjawab. “Abang, rasanya pety tak percaya kata-kata ini keluar dari bibir abang.  Pety mau bang…mau”

Seperti mendapat rejeki dari langit rasanya rudi. Akhirnya pety khilaf juga dan menerima rudi. Maka bergegaslah rudi mengatur strategi menuju pernikahan. Setiap hari rudi selalu bersenandung lagunya AFI Indonesiar…Menuju puncak….Rupiah demi rupiah di kumpulkan rudi demi mewujudkan cita-citanya meniduri pety. Dari segi lahiriah rudi pun menyiapkan diri. Tiap pagi ramuan telor bebek mentah tidak lupa di ganyang. Madu murni pun jadi santapan sehari-hari. Bahkan rudi rela di sengat tawon untuk mendapatkan madu yang benar-benar murni.   Pitnes pun rajin di lakukan rudi.  Sambil tersenyum-senyum rudi berkata dalam hati “Rasain luh pet nanti pasti kewalahan dah ngadepin gua….ciiiihuuuuyyy”

Setelah dirasakan semua siap maka rudi mulai merencanakan untuk berbicara dengan orang tua pety. Semua teman sibuk mengajarkan rudi bagaimana cara untuk berbicara yang sopan menurut kaidah manusia berbibir normal. Bahkan cara duduk yang benar pun tak lupa di ajarkan. Penekanan lebih di utamakan pada cara mengatupkan bibir dan mengatur gerak bibir. Hal ini bertujuan agar orang tua pety terkesan dengan kelebihan satu-satunya yang di miliki rudi.

Hari yang di nantikan pun tiba. Dengan penuh percaya diri rudi berangkat ke rumah pety dan bertemu dengan orang tua pety. Pembicaraan pun berlangsung serius dan sesuai dengan yang di harapkan. Kedua orang tua pety dengan lapang dada menerima lamaran rudi. Yah karena keduanya sudah berpacaran cukup lama dan selama ini rudi di nilai sebagai anak yang penuh sopan santun. tingkah lakunya pun selalu natural.

Pembicaraan berlanjut ke rencana pesta pernikahan. Dan ternyata ada ketidak singkronan mengenai pesta ini. Rudi yang berpikir praktis iritis berpendapat bahwa pesta pernikahan cukup di lakukan seadanya. dengan hanya di hadiri keluarga dekat. memang akan ada syukuran setelah akad nikah selesai. tapi orang tua pety berpendapat lain, karena pety adalah anak perempuan tertua maka harus di adakan pesta besar-besaran. Yah minimal manggil hiburan dari Peter Pan-lah. walaupun sudah bubar tapi tetap bisa di upayakan.

Karena lamarannya takut di tolak akhirnya rudi pun menyetujui rencana pesta besar-besaran tersebut. “Yah saya terserah Bapaklah. Mau ada hiburan apapun juga boleh. Mau Golekan, layar tancep atau band juga boleh saja Pak. Asal jangan ada badut aja ya Pak. Soalnya saya udah pernah Pak dan ngga seru-seru amat.” Dengan suara agak serak rudi memberanikan diri berbicara. “Dan mengenai makanannya pun mungkin Ibu bisa menentukan yah. Ada kambing guling, pempek, es krim kalau bisa yang campina ya Bu. Kalau Walls saya suka batuk”

Kedua orang tua pety agak mengernyitkan kening ketika rudi berbicara seperti itu. Kok kayaknya ada yang aneh dengan pembicaraan ini.  Ada yang ngga matching nih.  Tapi untuk menjaga suasana agar tetap kondusif Ibunya pety langsung menginjak kaki bapaknya pety agar tidak memberikan komentar. Akhirnya pembicaraan sampailah kepada biaya pernikahan. Rudi pun telah siap untuk berbicara. “Maaf Pak, mengenai biaya saya memang sudah persiapkan jauh-jauh hari. Bahkan sekarang ini pun saya sudah bawa Pak” Kontan saja ada rasa terkejut dalam hati bapaknya petty. “ngga mungkin deh ni anak bawa uang buat pesta. Kantongnya aja ngga bejendol. Tas juga ngga bawa. Di taro di mana tuh duit” Bapaknya petty bertanya-tanya dalam hati. Mulai rasa dag dig dug timbul dalam hatinya. “Hmmm…mungkin dia mau ngasih cek nih. kan tipis tuh kalau cek”

Akhirnya bapaknya petty angkat bicara. “Yah, masalah biaya mungkin kita bisa atur ya nak Rudi. Saat ini berapapun akan kami terima. Dan kami sangat menghargai maksud baik nak Rudi” Wah, rudi senang bukan main. Terbayang di bibirnya pesta perkawinan yang megah, di gedung yang bertabur tamu-tamu dengan suasana meriah karena iringan lagu dari peter pan. “Terimakasih Pak, Bu. Terimakasih sekali atas pengertiannya. Mungkin nanti kalau ada tambahan saya akan kasih lagi. Untuk sementara saya serahkan uangnya, tolong di atur bagaimana baiknya bapak dan Ibu” Rudi menyerahkan amplop yang ada di kantongnya. Bapak dan Ibunya pety langsung mengambil amplop tersebut. Dalam hati bapaknya pety “bener nih cek, tipis banget”.      

Setelah rudi pulang langsung amplop tersebut di buka dan terkejutlah kedua orang tua pety….”Dasar calon mantu seeettttaaaaannnnn…masa kasih duit buat pesta kawinan cuma 200rb…awas tuh bibir kalau kesini gua asah ampe tipis baru tau rasa” Bapaknya pety marah banget keliatannya. Dan sampai tekanan darah tingginya kumat.

Sementara dalam perjalanan pulang rudi bersiul-siul diatas motor mionyongnya. “asssiiikkkk…jadi juga dah gua kawin. besok gua ke rumah pety lagi ah, bawain duren buat bokapmya” 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: